Rabu, 10 Maret 2010

JENIS-JENIS KARANGAN

1. Paragraf Deskripsi
Paragraf deskripsi adalah paragraf yang menggambarkan sesuatu dengan jelas dan terperinci. Paragraf deskrispi bertujuan melukiskan atau memberikan gambaran terhadap sesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, membaca, atau merasakan hal yang dideskripsikan.
Contoh : keadaan banjir, suasana di pasar

Menandai Ciri-ciri Paragraf Deskripsi
Bacalah dua kutipan di bawah ini!
KUTIPAN 1
Malam itu, indah sekali. Di langit, bintang – bintang berkelip – kelip memancarkan cahaya. Hawa dingin menusuk kulit. Sesekali terdengar suara jangkrik, burung malam, dan kelelawar mengusik sepinya malam. Angin berhembus pelan dan tenang.
KUTIPAN 2
Kamar itu, menurut penglihatan saya, sangatlah besar dan bagus. Sebuah tempat tidur besi besar dengan kasur, bantal, guling, dan kelambu yang serba putih, berenda dan berbunga putih, berada di kamar dekat dinding sebelah utara. Kemudian, satu cermin oval besar tergantung di dinding selatan. Di kamar itu juga ada lemari pakaian yang amat besar terbuat dari kayu jati. Lemari kokoh itu tepat berada di samping pintu kamar
Kedua kutipan tersebut adalah contoh paragraf deskripsi. Paragraf deskripsi mempunyai ciri-ciri yang khas, yaitu bertujuan untuk melukiskan suatu objek.
• Dalam paragraf deskripsi, hal-hal yang menyentuh pancaindera (penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, atau perabaan) dijelaskan secara terperinci. Inilah ciri-ciri paragraf deskripsi yang menonjol, seperti dalam kutipan 1.
• Ciri yang kedua adalah penyajian urutan ruang. Penggambaran atau pelukisan berupa perincian disusun secara berurutan; mungkin dari kanan ke kiri, dari atas ke bawah, dari depan ke belakang, dan sebagainya, seperti dalam kutipan 2.
• Ciri deskripsi dalam penggambaran benda atau manusia didapat dengan mengamati bentuk, warna, dan keadaan objek secara detil/terperinci menurut penangkapan si penulis.
….seorang gadis berpakaian hitam…..
….tiga lelaki tanpa alas kaki….
• Dalam paragraf deskripsi, unsur perasaan lebih tajam daripada pikiran.
….bersama terpaan angin yang lembut…..
Paragraf Eksposisi
Menulis eksposisi sangat besar manfaatnya. Mengapa? Sebagian besar masyarakat menyadari pentingnya sebuah informasi.
Eksposisi merupakan sebuah paparan atau penjelasan.
Jika ada paragraf yang menjawab pertanyaan apakah itu? Dari mana asalnya? Paragraf tersebut merupakan sebuah paragraf eksposisi. Eksposisi adalah karangan yang menyajikan sejumlah pengetahuan atau informasi. Tujuannya, pembaca mendapat pengetahuan atau informasi yang sejelas – jelasnya.
Contoh : laporan
Dalam paragraf eksposisi, ada beberapa jenis pengembangan, yaitu (1) eksposisi definisi, (2) eksposisi proses, (3) eksposisi klasifikasi, (4) eksposisi ilustrasi (contoh), (5) eksposisi perbandingan & pertentangan, dan (6) eksposisi laporan.
Mengenali Contoh-contoh Paragraf Eksposisi
PARAGRAF 1
Ozone therapy adalah pengobatan suatu penyakit dengan cara memasukkan oksigen ,urni dan ozon berenergi tinggi ke dalam tubuh melalui darah. Ozone therapy merupakan terapi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, baik untuk menyembuhkan penyakit yang kita derita maupun sebagai pencegah penyakit.
PARAGRAF 2
Pemerintah akan memberikan bantuan pembangunan rumah atau bangunan kepada korban gempa. Bantuan pembangunan rumah atau bangunan tersebut disesuaikan dengan tingkat kerusakannya. Warga yang rumahnya rusak ringan mendapat bantuan sekitar 10 juta. Warga yang rumahnya rusak sedang mendapat bantuan sekitar 20 juta. Warga yang rumahnya rusak berat mendapat bantuan sekitar 30 juta. Calon penerima bantuan tersebut ditentukan oleh aparat desa setempat dengan pengawasan dari pihak LSM.
PARAGRAF 3
Sampai hari ke-8, bantuan untuk para korban gempa Yogyakarta belum merata. Hal ini terlihat di beberapa wilayah Bantul dan Jetis. Misalnya, di Desa Piyungan. Sampai saat ini, warga Desa Piyungan hanya makan singkong. Mereka mengambilnya dari beberapa kebun warga. Jika ada warga yang makan nasi, itu adalah sisa-sisa beras yang mereka kumpulkan di balik reruntuhan bangunan. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa bantuan pemerintah kurang merata.
PARAGRAF 4
Pernahkan Anda menghadapi situasi tertentu dengan perasaan takut? Bagaimana cara mengatasinya? Di bawah ini ada lima jurus untuk mengatasi rasa takut tersebut. Pertama, persipakan diri Anda sebaik-baiknya bila menghadapi situasi atau suasana tertentu; kedua, pelajari sebaik-baiknya bila menghadapi situasi tersebut; ketiga, pupuk dan binalah rasa percaya diri; keempat, setelah timbul rasa percaya diri, pertebal keyakinan Anda; kelima, untuk menambah rasa percaya diri, kita harus menambah kecakapan atau keahlian melalui latihan atau belajar sungguh – sungguh.
PARAGRAF 5
Pascagempa dengan kekuatan 5,9 skala richter, sebagian Yogyakarta dan Jawa Tengah luluh lantak. Keadaan ini mengundang perhatian berbagai pihak. Bantuan pun berdatangan dari dalam dan luar negeri. Bantuan berbentuk makanan, obat-obatan, dan pakaian dipusatkan di beberapa tempat. Hal ini dimaksudkan agar pendistribusian bantuan tersebut lebih cepat. Tenaga medis dari daerah-daerah lain pun berdatangan. Mereka memberikan bantuan di beberapa rumah sakit dan tenda – tenda darurat.
PARAGRAF 6
Sebenarnya, bukan hanya ITS yang menawarkan rumah instan sehat untuk Aceh atau dikenal dengan Rumah ITS untuk Aceh (RI-A). Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman Departemen Pekerjaan Umum juga menawarkan “Risha” alias Rumah Instan Sederhana Sehat. Modelnya hampir sama, gampang dibongkar-pasang, bahkan motonya “Pagi Pesan, Sore Huni”. Bedanya, sistem struktur dan konstruksi Risha memungkinkan rumah ini berbentuk panggung. Harga Risha sedikit lebih mahal, Rp 20 juta untuk tipe 36. akan tetapi, usianya dapat mencapai 50 tahun karena komponen struktur memakai beton bertulang, diperkuat pelat baja di bagian sambungannya. Kekuatannya terhadap gempa juga telah diuji di laboratorium sampai zonasi enam.
Topik – topik yang Dapat Dikembangkan Menjadi Paragraf Eksposisi
Tujuan paragraf eksposisi adalah memaparkan atau menjelaskan sesuatu agar pengetahuan pembaca bertambah. Oleh karena itu, topik-topik yang dikembangkan dalam paragraf eksposisi berkaitan dengan penyampaian informasi. Berikut ini contoh – contoh topik yang dapat dikembangkan menjadi sebuah paragraf eksposisi.
1. Manfaat menjadi orang kreatif
2. Bagaimana proses penyaluran bantuan langsung?
3. Konsep bantuan langsung tunai.
4. Faktor – faktor penyebab mewabahnya penyakit flu burung.
Paragraf Argumentasi
Paragraf Argumentasi adalah paragraf atau karangan yang membuktikan kebenaran tentang sesuatu.
Untuk memperkuat ide atau pendapatnya penulis wacana argumetasi menyertakan data-data pendukung. Tujuannya, pembaca menjadi yakin atas kebenaran yang disampaikan penulis.
Dalam paragraf argumentasi, biasanya ditemukan beberapa ciri yang mudah dikenali. Ciri- ciri tersebut misalnya (1) ada pernyataan, ide, atau pendapat yang dikemukakan penulisnya; (2) alasan, data, atau fakta yang mendukung; (3) pembenaran berdasarkan data dan fakta yang disampaikan. Data dan fakta yang digunakan untuk menyusun wacana atau paragraf argumentasi dapat diperoleh melalui wawancara, angket, observasi, penelitian lapangan, dan penelitian kepustakaan.
Pada akhir paragraf atau karangan, perlu disajikan kesimpulan. Kesimpulan ini yang membedakan argumentasi dari eksposisi.
1.
Menyetop bola dengan dada dan kaki dapat ia lakukan secara sempurna. Tembakan kaki kanan dan kiri tepat arahnya dan keras. Sundulan kepalanya sering memperdayakan kiper lawan. Bola seolah-olah menurut kehendaknya. Larinya cepat bagaikan kijang. Lawan sukar mengambil bola dari kakinya. Operan bolanya tepat dan terarah. Amin benar-benar pemain bola jempolan (Tarigan 1981 : 28).
1.
Mempertahankan kesuburan tanah merupakan syarat mutlak bagi tiap-tiap usaha pertanian. Selama tanaman dalam proses menghasilkan, kesuburan tanah ini akan berkurang. Padahal kesuburan tanah wajib diperbaiki kembali dengan pemupukan dan penggunaan tanah itu sebaik-baiknya. Teladan terbaik tentang cara menggunakan tanah dan cara menjaga kesuburannya, dapat kita peroleh pada hutan yang belum digarap petani.
Tujuan yang ingin dicapai melalui pemaparan argumentasi ini, antara lain :
1. melontarkan pandangan / pendirian
2. mendorong atau mencegah suatu tindakan
3. mengubah tingkah laku pembaca
4. menarik simpati
Contoh : laporan penelitian ilmiah, karya tulis
Paragraf Narasi
Paragraf narasi adalah paragraf yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian. Dalam karangan atau paragraf narasi terdapat alur cerita, tokoh, setting, dan konflik. Paragraf naratif tidak memiliki kalimat utama.
Perhatikan contoh berikut!
Kemudian mobil meluncur kembali, Nyonya Marta tampak bersandar lesu. Tangannya dibalut dan terikat ke leher. Mobil berhenti di depan rumah. Lalu bawahan suaminya beserta istri-istri mereka pada keluar rumah menyongsong. Tuan Hasan memapah istrinya yang sakit. Sementara bawahan Tuan Hasan saling berlomba menyambut kedatangan Nyonya Marta.
Paragraf naratif disusun dengan merangkaikan peristiwa-peristiwa yang berurutan atau secara kronologis. Tujuannya, pembaca diharapkan seolah-olah mengalami sendiri peristiwa yang diceritakan.
Contoh : novel, cerpen, drama
Paragraf narasi dibedakan atas dua jenis, yaitu narasi ekspositoris dan narasi sugestif. Paragraf narasi ekspositoris berisikan rangkaian perbuatan yang disampaikan secara informatif sehingga pembaca mengetahui peristiwa tersebut secara tepat.
Siang itu, Sabtu pekan lalu, Ramin bermain bagus. Mula-mula ia menyodorkan sebuah kontramelodi yang hebat, lalu bergantian dengan klarinet, meniupkan garis melodi utamanya. Ramin dan tujuh kawannya berbaris seperti serdadu masuk ke tangsi, mengiringi Ahmad, mempelai pria yang akan menyunting Mulyati, gadis yang rumahnya di Perumahan Kampung Meruyung. Mereka membawakan lagu “Mars Jalan” yang dirasa tepat untuk mengantar Ahmad, sang pengantin….
Sumber : Tempo, 20 Februari 2005
Paragraf narasi sugestif adalah paragraf yang berisi rangkaian peristiwa yang disusun sedemikian rupa seehingga merangsang daya khayal pembaca, tentang peristiwa tersebut.
Patih Pranggulang menghunus pedangnya. Dengan cepat ia mengayunkan pedang itu ke tubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelum mengenai tubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelum mengenai tubuh Tunjungsekar, pedang itu jatuh ke tanah. Patih Pranggulang memungut pedang itu dan membacokkan lagi ke tubuh Tunjungsekar. Tiga kali Patih Pranggulang melakukan hal itu. Akan tetapi, semuanya gagal.
Sumber : Terampil Menulis Paragraf, 2004 : 66
Paragraf Persuasi
Paragraf Persuasi merupakan paragraf yang berisi imbauan atau ajakan kepada orang lain untuk melakukan sesuatu seperti yang diharapkan oleh penulisnya. Oleh karena itu, biasanya disertai penjelasan dan fakta-fakta sehingga meyakinkan dan dapat mempengaruhi pembaca.
Pendekatan yang dipakai dalam persuasi adalah pendekatan emotif yang berusaha membangkitkan dan merangsang emosi.
Contoh : (1) propaganda kelompok / golongan, kampanye, (2) iklan dalam media massa, (2) selebaran, dsb.
karangan yang bertujuan mempengaruhi dan membujuk pembaca
Sistem pendidikan di Indonesia yang dikembangkan sekarang ini masih belum memenuhi harapan. Hal ini dapat terlihat dari keterampilan membaca siswa kelas IV SD di Indonesia yang berada pada peringkat terendah di Asia Timur setelah Philipina, Thailand, Singapura, dan Hongkong. Selain itu, berdasarkan penelitian, rata-rata nilai tes siswa SD kelas VI untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA dari tahun ke tahun semakin menurun. Anak-anak di Indonesia hanya dapat menguasai 30% materi bacaan. Kenyataan ini disajikan bukan untuk mencari kesalahan penentu kebijakan, pelaksana pendidikan, dan keadaan yang sedang melanda bangsa, tapi semata-mata agar kita menyadari sistem pendidikan kita mengalami krisis. Oleh karena itu, semua pihak perlu menyelamatkan generasi mendatang. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem pendidikan nasional.

Minggu, 21 Februari 2010

CERITA RAKYAT " SANGKURIANG"


Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di tengah hutan Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang tengah bertapa ingin menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi alias Rarasati.
Dayang Sumbi sangat cantik dan cerdas, banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Galau hati Dayang Sumbi melihat kekacauan yang bersumber dari dirinya. Atas permitaannya sendiri Dayang Sumbi mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi.
Dayang Sumbi pun menikahi Si Tumang dan dikaruniai bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring selalu ditemani bermain oleh Si Tumang yang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan sakti.
Pada suatu hari Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya Si Tumang untuk mengejar babi betina yang bernama Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, Sangkuriang marah dan membunuh Si Tumang. Daging Si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah Si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat dari tempurung kelapa sehingga luka dan diusirlah Sangkuriang.
Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya, begitu juga sebaliknya. Terjalinlah kisah kasih di antara kedua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan tanda luka di kepalanya.
Dayang Sumbi pun berusaha menjelaskan kesalahpahaman hubungan mereka. Walau demikian, Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan mejadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan berubah menjadi setangkai unga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).

SASTRA LAMA

Karya sastra prosa dapat diklasifikasikan berdasarkan pembabakannya menjadi prosa lama dan prosa baru. Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan, disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, masyarakat menjadi akrab dengan tulisan, dan bentuk tulisan pun mulai banyak dikenal. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sejarah sastra Indonesia mulai ada.
Adapun bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah:
Hikayat, berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib. Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang diceritakan dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Contoh: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, Si Pitung, Hikayat Si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Sang Boma, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman.

2. Sejarah (tambo), adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta. Selain berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan masyarakat lama. Contoh: Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.
3. Kisah, adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.
4. Dongeng, adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Dongeng sendiri banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut:
 Fabel, adalah cerita lama yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang). Beberapa contoh fabel, adalah: Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau, Hikayat Pelanduk Jenaka, Kancil dengan Lembu, Burung Gagak dan Serigala, Burung Bangau dengan Ketam, Siput dan Burung Centawi, dll.
 Mite (Mitos), adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempuyai kekuatan gaib. Contoh-contoh sastra lama yang termasuk jenis mitos, adalah: Nyai Roro Kidul, Ki Ageng Selo, Dongeng tentang Gerhana, Dongeng tentang Terjadinya Padi, Harimau Jadi-Jadian, Puntianak, Kelambai, dll.
 Legenda, adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah. Contoh: Legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, dll.
 Sage, adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang. Beberapa contoh sage, adalah: Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, Panji, Smaradahana, dll.
 Parabel, adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh: Kisah Para Nabi, Hikayat Bayan Budiman, Mahabarata, Bhagawagita, dll.
 Dongeng jenaka, adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas, atau cerdik dan masing-masing dilukiskan secara humor. Contoh: Pak Pandir, Lebai Malang, Pak Belalang, Abu Nawas, dll.
5. Cerita berbingkai, adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam

Senin, 28 Desember 2009

Refleksi Tahun Baru Hijriah 1431



Tanpa terasa, hari ini adalah momentum bersejarah yang pernah dilalui Rasulullah dan para sahabatnya 1431 tahun yang lalu. Itulah peristiwa hijrah yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban Islam di awal-awal pertumbuhannya; sebuah eksodus besar-besaran yang menuntut pengorbanan dan perjuangan yang sangat berat. Para sahabat Muhajirin rela meninggalkan tanah kelahiran, harta benda dan segala yang dicintainya, bukan karena diusir kaum Kuffar Mekkah, melainkan karena perintah Allah swt. Begitulah sejarah telah mencatat, betapa ikhtiar baik yang dilandasi oleh dimensi keikhlasan dan kepasrahan total akan selalu dikenang dan tak lekang oleh zaman. Apa yang dialakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya adalah ekspresi keagamaan yang dilakukan dengan penuh kesadaran, pertimbangan menuju perubahan yang dicita-citakan. Ia menyimpan banyak pelajaran yang harus dipetik, direnungkan, lalu diaplikasikan dalam realitas kehidupan sehari-hari. Ya, pemaknaan tahun baru hijriah sejatinya bukan hanya sekedar diperingati dengan ritus-ritus formal yang kering makna, bukan sekedar perhelatan kata-kata yang dirangkai untuk kemudian dikrimkan melalui SMS atau kartu-kartu ucapan lainnya, apalagi hanya dengan meliburkan lembaga-lembaga pendidikan tanpa menyuguhklan nilai transformatif dan ikhtiar harapan menuju kematangan-kematangan yang menjanjikan. Sederhananya, tahun baru hijriah adalah momentum paling absah untuk mengingatkan kita arti sebuah perubahan, lalu menggerakkan nalar kreatif-inovatif menuju pencerahan-pencerahan di seluruh sektor kehidupan. Dalam konteks keindonesiaan, nilai etis makna hijrah harus tersublimasi dalam benak kesadaran masyarakat, sehingga yang terjadi adalah dinamika positif yang mampu membangun bangsa ini bukan malah memperebutkan kekuasaan artifisial dan sibuk mengurusi pertengkaran yang tak kunjung usai. Dari keburukan menuju kebaikan, dari keterpurukan menuju kematangan, dari percekcokan menuju kedamaian, dari perpecahan menuju kesatuan, dari korupsi menuju penyucian diri dan dari kefanaan menuju keabadian... Riwayat Perjalanan dan Makna Kepemilikan Baru kemarin rasanya saya menulis tentang Menyelami Dimensi Tahun Baru Hijriah di blog sejenak kemudian ini, yakni tepat tanggal 29 Desember 2008. Ternyata sudah hampir setahun, dan saya merasa terbangun dari buaian mimpi panjang. Waktu terasa begitu cepat, sementara untuk amal kebajikan terasa begitu lambat. Ada banyak riwayat yang dulu setia menemani perjalanan kita, tapi sekarang telah meninggalkan kita tanpa mampu dicegah. Ada cerita suka-duka yang tercatat di lembar memory, di kedalaman hati. Ya, banyak rajutan kenangan yang jauh meningglkan kita. Saya jadi berpikir kembali tentang arti kepemilikan. Ah, betapa kita seringkali mengklaim bahwa memiliki anak, harta, jabatan, ilmu, teman dan entah apa lagi. Kita, tanpa disadari seolah merasa menguasainya. Kesemuanya itu miliki kita. Padahal, benarkah kita mampu mengendalikan, memerintah, dan menguasai terhadap klaim-klaim tadi? Kita menyimpan uang di Bank, maka sesunggunya kita tidak lagi memiliki sepenuhnya uang itu. Boleh saja kita mengaku memilikinya, tapi sesungguhnya kendali posisi uang tidak berada di tangan kita. Bagaimana dengan anak-anak? Semakin mereka tumbuh besar, pengetahuan dan penguasaan orang tua terhadap mereka semakin kecil dan menipis, terlebih apabila ketika tingkat pendidikan dan kekayaan sang anak melampaui orang tuanya. Itulah barangkali yang serng kita jumpai dalam hiruk-pikuk keluarga artis dan dunia intertainment. Manakala anaknya sudah mulai naik daun dan sudah populer, banyak duit, jadi selebritis, maka tiba-tiba sang orang tua tidak lagi memiliki keberanian dan kekuatan untuk menasehati dan mencegah ketika anaknya memasuki gaya hidup glamor dan bebas, hidup yang sesungguhnya sangat berseberangan dengan kehendak dan nilai-nilai luhur yang sejak kecil telah ditanamkan orang tuanya. Begitu pula dengan jabatan, yang tak lebih hanyalah pakaian sementara dengan durasi yang sangat singkat. Hanya sepanjang berlakunya SK. Bahkan hanya dalam jam-jam kantor saja. Di luar itu, segala berubah-ubah sesuai dengan keadaan dan tuntutan. Sangat flktuatif. Kadang menjadi pasien jika sakit, menjadi suami-istri jika menikah, menjadi narapidana jika ketangkap basah karena korupsi. Tapi benarkah kita benar-benar memiliki? Barangkali, momentum tahun baru hijriah ini mampu membuka kesadaran kita bahwa yang konstan dan tak pernah berjalan surut adalah bertambahnya usia. Entah itu orang kaya atau miskin, pintar atau dungu, penguasa atau rakyat jelata, orang baik atau jahat, usia seseorang terus berjalan sampai titik batas akhir umurnya, lalu dipangkas dengan kematian. Lalu, apa sesungguhnya yang permanen dan abadi dimiliki seseorang? Barangali bukan sesuatu yang berlebihan jika Emha Ainun Nadjib pernah mengatakan, bahwa segala sesuatu yang melekat di tubuh kita adalah hak pakai, bukan hak milik. Maka berbahagilah mereka yang selalu sadar bahwa semua ini pinjaman, hadiah-anugerah, dan amanah untuk disyukuri dan difungsikan untuk memperbanyak amal kebajkan. Ketika suatu saat diambil kembali oleh Sang Pemiliknya, mereka merasa lega dan bersyukur karena telah memanfaatkan dengan sebaik mungkin dan beban amanahnya sudah dikurangi atau ditarik kembali oleh Si Empunya. Begitu apa yang dituturkan oleh Komaruddin Hidayat dalam bukunya Berdamai dengan Kematian; Menjemput Ajal dengan Optimisme. Akhirnya, saya ucapkan selamat tahun baru Hijriah 1431. Semoga menjadi momentum yang mampu merubah diri kita menuju pencerahan dan kebaikan.

Sabtu, 26 Desember 2009

Spirit Tahun Baru Hijriyah

Mengikuti tahun hijriyah akan lebih mengakrabkan kita dengan alam, dan otomatis akan lebih mendekatkan kita kepada Allah Sang Pencipta Yang Maha Kuasa.
Baru saja kita memasuki bulan Muharram, bulan yang mengawali tahun baru hijriyah kita untuk tahun 1425 H. Bulan yang tiba-tiba menghentak batin kita untuk segera mengenang peristiwa besar dalam sejarah, yaitu peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW. dari kota Makkah menuju kota Madinah. Setiap awal tahun hijriyah seperti ini kita seharusnya sebagai umat Islam segera membangun semangat baru untuk meningkatkan ketakwaan dalam diri kita. Meningkatkan ketaatan kepada Allah. Dan kita segera mengucapkan pada hari-hari yang telah lewat dari tahun 1424 H. : " selamat jalan, selamat menjadi teguran sejarah atas segala kekurangan dan kami berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang telah menyebabkan malapetaka dan kesengsaraan terhadap hidup kami di dunia maupun di akhirat ".
Apa yang menarik dari setiap kita memasuki tahun baru adalah munculnya kesadaran baru dalam diri kita. Kesadaran akan beberapa hal : Pertama, kesadaran bahwa diakui atau tidak usia kita telah berkurang. Sementara investasi pahala untuk simpanan di akhirat masih sangat tipis, dibanding nikmat-nikmat Allah yang setiap detik selalu mengalir. Tiada putus-putusnya. Dari segi ini saja kita seharusnya merasa malu, di mana kita yang mengaku sebagai hamba Allah tetapi dalam banyak hal orientasi kita menkonsumsi nikmat-nikmat Allah dan lupa bersyukur kepadaNya, bahkan kita sering mengaktualisasaikan diri kita sebagai hamba dunia. Kita masih saja lebih banyak sibuk menginvestasi kepentingan dunia dari pada investasi untuk akhirat.
Dengan datangnya tahun baru ini, semoga semangat untuk membangun kemegahan akhirat lebih kuat dari semangat untuk membangun kemegahan dunia. Kedua, pada tanggal 1 Muharram kita menyaksikan suatu perubahan waktu yang ditandai oleh pergeseran alam, yaitu munculnya bulan sabit tahun baru di ufuk barat. Dari sini kita menyaksikan diri kita berjalan seirama dengan perjalanan segala wujud di alam ini. Allah SWT yang menciptakan semua mahluk, selalu mengajarkan kita agar senantiasa memperhatikan kebesaraNya dengan menyaksikan ketaraturan dan kerapian ciptaanNya di alam semesta ini. Untuk itu kita diajarkan pula agar dalam menjalani ibadah kepadaNya selalu memperhatikan waktu-waktu tertentu yang sejalan dengan perputaran tata surya.
Dalam menjalani shalat misalnya, Allah mengaskan dalam Al-Qur'an agar ditegakkan pada waktu-waktu tertentu (QS. Al-Nisa: 103). Dan kita telah tahu bahwa waktu shalat Dzuhur setelah tergelincir matahari, shalat maghrib, setelah terbenam matahari, shalat subuh setelah terbit fajar dan lain sebagainya. Dalam menjalani puasa Ramadlan, kita juga diajarakan oleh Rasulullah SAW agar memulainya setelah melihat bulan tanggal satu Ramadlan, dan mengakhirinya pun setelah melihat bulan akhir Ramadhan. (HR, Imam Muslim). Ibadah hajipun Allah mengajarkan agar dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu,(QS. Al-Baqarah: 197) Syawal, Dzulqa'dah dan dzulhijjah.
Semuanya itu sungguh menunjukkan betapa eratnya aktifitas ibadah kita dengan aktifitas alam. Dari sini terlihat dengan jelas betapa mengikuti tahun hijriyah akan lebih mengakrabkan kita dengan alam, dan otomatis akan lebih mendekatkan kita kepada Allah Sang Pencipta Yang Maha Kuasa. Ketiga, bahwa tahun hijriyah berjalan seirama dengan perjalanan sejarah Rasulullah SAW. Sungguh banyak peristiwa besar dalam sejarah Islam yang hanya terekam dalam bulan-bulan hijriyah. Seperti awal turunnya Al-Qur'an, titik permulaan hijrah, tanggal kemenangan dalam perang Badar dan lain sebagainya. Hari-hari besar Islam, seperti hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, sangat terkait dengan penanggalan hijriyah ini.
Dari sini kita akan lebih banyak belajar pada sejarah untuk membangun masa depan kita. Dalam arti kata lain kita akan menjadi pribadi yang pandai membangun masa depan dengan pijkan masa lampau yang kokoh dan benar. Dan kita dengan langkah ini tidak mengulang kesalahan dan kecelakaan masa lalu. Sebagaimana yang tersebut dalam sebuah riwayat: "Seorang mu'min tidak akan pernah terjerumus dalam jurang yang sama dua kali". ( HR Muslim) Dengan demikian, adalah kesadaran yang benar jika dalam permualaan tahun baru hijriyah ini, kita umat Islam membangun tekad baru, untuk meningkatkan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah, sebagaimana yang baru saja ditegaskan pada awal tulisan ini. Karena hanya dari tekad inilah segala krisis yang pernah kita lalui pada tahun-tahun sebelumnya akan bisa diatasi. Selamat memulai tahun baru hijriyah dan selamat membangun masa depan umat ini dengan ketakwaan yang hakiki.

Ditulis oleh Dr. Amir Faishal

Selasa, 22 Desember 2009

makna dan Hikmah Tahun Baru Islam

JUMAT, 18 Desember 2009, bertepatan dengan 1 Muharam 1431 H. Artinya, inilah hari pertama tahun baru Islam –perhitungan kalender Hijriyah. Kalender Hijriyah yang perhitungannya mengacu pada pergantian bulan (Qomariyah), menjadikan peristiwa hijrah Rasulullah Saw dan kaum Muslim sebagai awal perhitungan. Karenanya, kalender kaum Muslim ini disebut tahun hijriyah (dari kata “hijrah”).

Hal itu juga berarti, peristiwa hijrah Rasulullah Saw dan para sahabat, dari Mekah ke Madinah (Yatsrib), sudah berusia 1431 tahun. Namun, meski sudah terjadi begitu lama, peristiwa itu masih dikenang, diingat, dan tertambat dalam sanubari kaum Muslim masa kini dan insya Allah masa mendatang. Lagi pula, perintah hijrah tetap berlaku sepanjang zaman dengan bentuk amaliah yang secara teknis berbeda.

Hijrah merupakan momentum penegakkan syariah, daulah, dan kejayaan Islam. Hijrah merupakan strategi dakwah untuk memperkuat barisan penegak syariat Islam dan membangun “home base” kaum Muslimin saat itu.

Pergantian tahun baru Islam berarti momentum peringatan peristiwa hijrah sekaligus penggalian maknanya. Sejumlah ulama, dari masa ke masa, terus berusaha menggali hikmah tersebut dan meng-up date-nya tiap kali bertemu tahun baru Islam 1 Muharam.

Pakar tafsir Dr. Quraish Shihab mencatat, ada empat poin seputar hijrah:

1. Kata “hijrah” digunakan untuk mengistilahkan perpindahan suatu kaum atau individu dari satu hal yang sifatnya buruk kepada hal lain yang sifatnya baik. Pengertian ini berlaku kepada kegiatan pindah tempat dan pindah kelakuan. Contoh hijrah yang paling populer adalah peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah. Contoh lainnya adalah tobatnya seseorang. Jika seseorang telah bertobat, dengan tobat nasuha, ini pun dikategorikan hijrah, berpindah dari suatu kondisi buruk kepada kondisi yang baik.

2. Al-Quran berjanji untuk memberikan kelapangan bagi siapa pun yang berhijrah. Namun, kelapangan yang akan diberikan Allah SWT hanya berlaku bagi orang yang secara sungguh-sungguh melaksanakan hijrah.

3. Sebelum hijrah Nabi Saw, nabi-nabi sebelumnya hijrah. Misalnya, Nabi Musa hijrah beserta kaumnya dari Mesir ke Palestina.

4. Poin cukup penting dalam berhijrah adalah usaha maksimal yang dilakukan. ketika kita sudah bertekad untuk berhijrah, maka sepantasnyalah kita berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menjalankan hijrah itu. Setelah kita telah berusaha dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan membantu kita dalam menjalani hijrah kita. Contoh nyata hijrah Nabi Muhammad bersama Abu Bakar dari Mekah ke Madinah.

Ulama lain, Syaikh Dr. Fadhl Ilahi, dalam bukunya, Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, menegaskan, Allah Swt menjadikan hijrah sebagai kunci di antara kunci-kunci rezeki.

‘Al-Muhajarah’ (hijrah), sebagaimana dikatakan Imam Ar-Raghib Al-Asfahani, adalah keluar dari negeri kafir kepada negeri iman, sebagaimana para sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Menurut Syeikh Fadhl, hijrah di jalan Allah termasuk kunci rezeki, sebagaiman ditegaskan Allah Swt, ” Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak” [QS. An-Nisaa:100].

Dalam ayat yang mulia ini, Allah menjanjikan bahwa orang yang berhijrah di jalan Allah akan mendapati dua hal : Pertama ‘muraagama katsiiran”, Kedua ’sa’atan’. Yang dimaksud ‘muragamaa’ sebagaimana dikatakan oleh Imam Ar-Razi adalah, barangsiapa berhijrah di jalan Allah ke negeri lain, niscaya akan mendapat di negerinya yang baru itu kabaikan dan kenikmatan yang menjadi sebab kehinaan dan kekecewaan para musuhnya yang berada di negeri asalnya.

Sedangkan yang dimaksud ’sa’atan’ (keluasan), yaitu keluasan rezeki. Inilah yang dikatakan oleh Abdullah bin Abbas r.a dan ulama lainnya adalam menafsirkan ayat ini.

Ketika para sahabat Nabi Saw meninggalkan rumah-rumah, harta benda, dan kekayaan mereka untuk hijrah di jalan Allah, Allah serta merta mengganti semuanya. Allah memberikan kepada mereka kunci-kunci negeri Syam, Persia, dan Yaman. Allah berikan kepada mereka kekuasaan atas istana-istana negeri Syam yang merah juga istana Mada’in yang putih. Kepada mereka juga dibukakan pintu-pintu Shan’a, serta ditundukkan untuk mereka berbagai simpanan kekayaan Kaisar dan Kisra.

HIJRAH merupakan momentum perjuangan umat Islam untuk tetap survive. Dimulainya penanggalan Tahun Hijriyah dari saat hijrah, menunjukan betapa kita harus menghargai dan mengambil hikmah dari peristiwa hijrah yang merupakan struggle for life (perjuangan untuk hidup), struggle for existence (perjuangan untuk menjadi terkuat).

Dalam buku Kebangkitan Islam dalam Pembahasan (1979), Sidi Gazalba menulis: “Dipandang dari ilmu strategi, hijrah merupakan taktik. Strategi yang hendak dicapai adalah mengembangkan iman dan mempertahankan kaum mukminin”.

Hijrah dalam kondisi sekarang tentu bukan selalu harus dengan meninggalkan tanah air seperti kaum Muhajirin, akan tetapi berpindah dari gaya hidup musyrikin atau tidak Islami ke gaya hidup yang Islami (berpijak pada nilai-nilai Islam), pindah dari kerenggangan jalinan ukhuwah kepada eratnya persaudaraan sesama Muslim, dan hijrah dari beramal jelek ke beramal baik.

Setiap pergantian Tahun Hijriyah juga merupakan momentum pengeratan solidaritas sesama Muslim. Ia tidak perlu dirayakan sebagaimana hingar-bingarnya perayaan “Malam Tahun Baru Masehi”, akan tetapi lebih membutuhkan penghayatan dan penggalian nilai-nilai yang ada dalam karakter “Tahun Islam” ini. Artinya, ia membutuhkan pemaknaan dan pengkajian sekaligus momentum introspeksi, muhasabah.

“Dan hendaklah setiap diri melakukan introspeksi tentang apa yang telah diperbuatnya untuk (kepentingan) hari esok (akhirat)” (QS. 59:18). Wallahu a’lam. (Abu Faiz/Pusdai.com).

Tahun Baru Hijriyah: refleksi untuk kesetaraan derajat


Akhir-akhir ini, kita menyaksikan baik secara langsung maupun melalui media massa, begitu banyak bencana yang menimpa bumi pertiwi ini. Banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin puting beliung dan berbagai bencana lainnya setiap saat mengintai dan menimpa berbagai wilayah di nuantara ini. Ratusan jiwa menjadi korban, dan tidak sedikit pula yang menderita akibat kehilangan harta benda, bahkan tempat tinggal.

Akibat dari bencana ini, setumpuk persoalan muncul, terutama pada aspek sosial-ekonomi terutama yang menimpa para korban bencana. Persoalan lainnya adalah pendistribusian berbagai bantuan bencana dengan adil dan merata. Juga bagaimana bantuan tersebut betul-betul dibelanjakan untuk kepentingan semua korban tanpa membedakan jenis klamin dan usia. Biasanya ketika bantuan mengalir kelompok yang termarjinalkan dari bantuan adalah perempuan dan anak. Keperluan dua kelompok ini seringkali luput dari panitia, sehingga mereka rentan terhadap berbagai penyakit. Demikian juga pihak berwenang, seperti pemerintah, dalam memberikan bantuan seringkali keperluan perempuan perempuan, terlupakan baik pada saat penanganan maupun pasca bencana. Misalnya, perempuan hamil, menyusui, dan anak-anak yang relatif memerlukan gizi lebih, tapi sulit didapat karena bantuan yang ada hanya berupa mie instan, rokok, dan lain sebagainya. Belum lagi persoalan-persoalan sosial yang muncul bagi perempuan akibat bencana seperti kondisi pengungsian yang kurang layak dan mengkhawatirkan dari sisi kenyamanan dan keamanan bagi perempuan.


Persoalan-persoalan kaum perempuan memang tak parnah kunjung selesai. Selain contoh di atas, berbagai masalah seperti trafiking, perempuan buruh migran, kematian ibu akibat melahirkan, dan juga balita kurang gizi yang tidak pernah henti diberitakan media. Belum lagi pasca kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak), angka perempuan miskin semakin bertambah. Sering kali terjadi, bahwa kemiskinan, melahirkan sejumlah perilaku memilukan, misalnya kekerasan dalam rumah tangga, baik kepda istri maupun anak atau sebaliknya.


Prilaku yang memilukan itu diakibatkan karena sistem sosial, budaya, politik, bahkan dalam beberapa hal agama, yang selama ini tidak ramah pada perempuan. Sistem itu telah berakibat pada posisi perempuan yang jauh tertinggal dalam berbagai sisi kehidupan di masyarakat. Posisi perempuan yang tidak punya daya tawar, menjadikannya rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, baik di dalam maupun di luar rumah. Hal ini telah mewarnai potret sosial dan wajah perempuan yang menyedihkan.


Disaat rakyat menjerit membutuhkan bantuan, kita melihat sikap yang paradok dari pemerintah. Pemerintah malah memberikan saldo tambahan bagi para anggota DPR sebanyak tiga puluh lima juta rupiah bagi setiap orang. Kemudian pemerintah juga kurang tegas dalam menegakkan hukum terhadap para pelaku kejahatan manusia. Begitukah cara pemerintah kita yang hanya bersenang-senang di atas penderitaan rakyatnya?


Makna Tahun Baru Hijriyah


Di tahun baru Hijriyah ini, hendaknya kita berbenah untuk melakukan hal yang lebih baik di masa yang akan datang. Ibnu ‘Arabi menjelaskan, seperti dikutip dalam Tafsir Al-Qurtubi bahwa hijrah atau berpindah ke lain tempat bisa dimaknai secara beragam. Makna pertama adalah perpindahan dari daar al-harb (wilayah perang) ke negeri muslim. Tipe ini merupakan kewajiban yang telah dilakukan pada masa Nabi Muhammad SAW. Kedua, meninggalkan suatu tempat karena akan melakukan perubahan. Ketiga, berpindah dari wilayah yang tidak mempunyai hukum yang memberikan keadilan menuju negara yang berhukum dan menciptakan keadilan. Keempat meninggalkan suatu wilayah karena membahayakan jiwa seseorang. Kelima berpindah untuk menghindari penyakit, dan keenam berpindah untuk menghindari kemiskinan atau mencari kekayaan (karunia) dari Allah swt. Makna hijrah yang lebih bersifat maknawi ini dapat direfleksikan dalam menganalisis persoalan-persoalan yang saat ini banyak dialami perempuan.


Momen tahun baru tidak hanya sebagai sejarah yang harus dihormati dan dirayakan. Kita menengok kembali bagaimana perjuangan Sayyidina Umar bin al-Khatab dalam menetapkan bulan hijriyah ini. Dahulu Khalifah Umar bin al-Khattab ra harus berdebat dengan beberapa sahabat mengenai peristiwa hijrah sebagai penentuan tahun pertama dalam Islam. Sang Khalifah tidak memilih kelahiran Nabi SAW, tidak juga masa diutusnya Nabi, masa kemenangan pertama dalam peperangan, atau masa awal pembukaan Kota Mekkah sebagai pintu dari pembukaan kota-kota dunia berikutnya. Justru peristiwa hijrah yang dipilih oleh Umar sebagai perhitungan awal sebagai tahun baru islam.


Pilihan ini tentu saja didasarkan banyak pertimbangan. Di antaranya karena peristiwa hijrah tidak hanya memuat ritualitas keagamaan, tetapi sarat dengan muatan politik untuk kemaslahatan umat. Kepentingan politik dari penindasan, kezaliman dan kekerasan, menuju komunitas yang lebih menjamin nilai-nilai persaudaraan, persatuan, kesetaraan, dan keadilan. Tentu saja dengan kebebasan mutlak untuk beribadah kepada Allah SWT. Jika kesadaran ‘politik keadilan’ ini tidak menjadi perspektif, maka fakta hijrah hanya akan menyodorkan nama dan peristiwa semata .

Makna Hijrah Bagi Kesetaraan (laki-laki dan perempuan)


Pada konteks relasi antara laki-laki dan perempuan, di masyarakat kebanyakan, laki-laki seringkali diposisikan memiliki akses lebih, jika dibanding perempuan. Akses sumber daya yang berlebih ini, secara sosial menempatkan laki-laki pada posisi superior dan menjadikan perempuan pada posisi inferior (yang lemah). Dalam realitas sosial, relasi seperti ini sering mengakibatkan perempuan menjadi korban kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis, sosial, ekonomi, dan politik. Hijrah mengajarkan kita menemukan kesadaran akan ketimpangan dan kesadaran pada perubahan untuk keadilan. Tentu tidak hanya berhenti pada kesadaran semata. Harus beranjak pada gerakan semampu kita untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.


Dengan demikian berhijrah atau berpindah kepada kondisi yang lebih aman, berhijrah dari sikap mendiamkan keadaan menuju kondisi mencari keadilan bagi perempuan korban kekerasan menjadi suatu keniscayaan. Suara-suara perih para perempuan yang selama ini terbungkam (dibungkam) sejarah yang tidak berpihak, harus diangkat. Untuk menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan memang banyak terjadi dan tidak boleh terulang lagi.


Karenanya, menghijrahkan perempuan yang tidak berdaya menjadi berdaya. Menghijrahkan perempuan dari powerless ke kondisi empower, menjadi tugas semua pihak. Seluruh pranata sosial masyarakat harus melakukan kerja mulia ini. Proses hijrah harus dilakukan oleh semua elemen masyarakat yang bercita-cita menggapai kehidupan lebih baik. Pemerintah dalam hal ini mempunyai peran yang sangat penting dalam memfasilitasi proses perubahan.


Gerakan perubahan dapat dimulai dari sesuatu yang paling mungkin, yang paling kecil, dan dari kita masing-masing. Perubahan di dalam keluarga inti, keluarga besar, tetangga, dan masyarakat. Dalam suatu hadis, Nabi Muhammad saw. mengajarkan: “Mulailah dari diri sendiri, kemudian dari keluargamu”. Seringkali, kesombongan diri menutup kita untuk bersedia mengevaluasi kesadaran yang masih timpang terhadap perempuan. Kesadaran yang masih diliputi hawa nafsu untuk berkuasa dan menguasai.


Gerakan perempuan pun juga harus mengevaluasi secara kritis agar tidak terjebak pada politik menguasai dan meninggalkan tujuan awal, politik keadilan. Seringkali, menghadapi diri sendiri jauh lebih berat jika dibandingkan menghadapi orang lain. Inilah yang dikatakan Nabi Muhammad sebagai jihad besar, jihad melawan hawa nafsu. Dan juga seperti yang dikatakan Nabi Muhammad Saw: “Sebaik-baik jihad adalah menyatakan keadilan di hadapan kekuasaan yang otoriter”. (Riwayat Turmudzi dan Abu Dawud, lihat Ibn al-Atsir, juz I, hal. 236). Kita seringkali menjadi otoriter, termasuk untuk diri kita, ketika diajak mengubah pandangan menuju yang lebih adil. Dengan semangat hijrah, tentu kita juga harus belajar lebih adil terhadap dan untuk diri kita semua. Semoga![]


Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Kempek Cirebon

(Artikel ini dimuat dalam Warkah al-Basyar Vol. VII ed. 03 - tanggal 01 Februari 2008)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
5. simpan coba ceks hasilnya semoga sobat berhasil